Chapter 10 : Tembaga Yang Membara

Perjuanganku menulis novel serupa dengan perjuangan Achilles dalam perang Trojan. Penuh dendam, ambisi dan kesalahan-kesalahan yang mustinya tidak layak disesali sama sekali. Entah sudah berapa banyak yang aku korbankan untuk ini. Uang, waktu, bahkan masa depan. Ketika kuliah aku bahkan sibuk membaca berbagai macam referensi tentang kepenulisan dan membaca karya-karya orang lain untuk sekedar menambah wawasan dan ketajaman dalam menulis, alih-alih membaca buku-buku atau diktat kuliah. Benar, aku memang kuliah di sastra Inggris, tetapi yang kupelajari hanyalah teori-teori akademik yang tidak pernah membuatku berkembang dan bertumbuh sebagai penulis.

Sastra

Apakah aku terlalu ambisius dalam menetapkan target? Aku tahu batas ambisius itu seperti apa? Aku ingin tulisanku berbeda dari penulis-penulis Indonesia yang pernah ada. Sesuatu yang beda tetapi dapat mencerahkan setiap orang yang membacanya. Novel pertamaku kukira bukan asli seperti aku adanya. Aku berusaha mengikuti pasar Indonesia yang senang dengan buku-buku yang lucu, ringan dan tak pernah suka dengan hal-hal berat seperti spiritualitas, politik atau konspirasi. Tapi yang jelas itu bukan Aku.

Memang ada novel-novel Indonesia yang berisi topik-topik macam itu tetapi menurutku masih gamang. Kurang riset atau terlalu terburu-buru dalam penyelesaiannya. Aku tahu aku mampu membuat yang lebih baik dari itu. Tapi lagi-lagi timbul pertanyaan klasik yang selalu saja sama setiap kali aku mencita-citakan sesuatu :

Kapan?

Aku mulai menulis, dan bertekad aku akan menulis setiap hari paling sedikit selama 3 jam, 10 lembar halaman buku, atau 3000 kata setiap harinya.

Pulpenku sedang menari-nari, meliuk-liuk dipandu sang koreografer otakku yang dari tadi tak mau berhenti, ketika sebuah ucapan salam terdengar dari luar.

Dalam sekejap aku berhenti dan langsung mengenali.

Suara Nurhasanah.

Sempat timbul keraguan untuk menjawab salam itu. Ia mungkin bersama suaminya. Dan dengan kemarahan yang meledak-ledak telah siap menelanku hidup-hidup.

Haruskah aku takut? Suara hatiku bertanya.

Kamu berhak takut.

Karena ketakutan itu membuatmu bersemangat untuk lari dari apa yang kamu takutkan.

Tapi haruskah aku lari dan bersembunyi di kolong meja dan membiarkan mereka mengulang-ulang salam lalu berpikir bahwa aku tidak ada di rumah.

Kamu pengecut jika begitu.

Kamu hendak lari dari kesalahan yang telah kamu perbuat. Bukan kesalahanku saja, Nurhasanah juga salah. Dan dia yang memulainya. Aku hanya objek dari ketidakpuasannya terhadap suami. Dan sekarang mereka akan menumpahkan semua kesalahan itu padaku.

Hadapi dan lihat apa yang akan terjadi.

Entah siapa yang bicara. Aku hanya sedang takut.

Tidakkah kamu berpikir jika berada dalam posisi sang suami?

Jika aku jadi suaminya aku tak mungkin sebodoh dan seceroboh dia.

Dan jika kamu bersembunyi bukankah itu juga tindakan bodoh.

---

Aku putuskan untuk menjawab salamnya dan membuka pintu.

Nurhasanah dan suaminya sedang berdiri di depan pintu. Wajah keduanya tegang dengan alasan yang berbeda. Nurhasanah tegang ketakutan dan suaminya tegang menahan amarah yang meluap.

"suamiku ingin bicara denganmu!" kata Nurhasanah singkat.

"Oh ya. Silakan masuk!" Jjawabku.

Di balik pintu telah ada sebilah pemukul kasti.

Dingin saat aku pegang tadi karena terlalu lama di kurung di gudang.
Chapter 10 : Tembaga Yang Membara Chapter 10 : Tembaga Yang Membara Reviewed by Ainun Mahya on 4:59 AM Rating: 5

No comments:

Silakan Berkomentar dengan Bijak

Powered by Blogger.