Chapter 15 : Sengkuni Melenggang ke Medan Laga

Sastra
Hubunganku dengan Nurhasanah kembali membaik. Dia tidak lagi menghindariku atau mencoba menghindariku. Cuma sekarang aku tak lagi mengiriminya puisi setiap malam, kami tak pernah berjalan-jalan bersama, hanya sesekali saja. Dan itupun kami lakukan dengan kehati-hatian yang tinggi. Kondisi seperti itu justru semakin membuat kami semakin menjadi-jadi. Semakin menjadi gila. Ancaman Sangaji entah kapan hari menguap bagai embun pada pukul 12 siang.

Pihak sekolah sedang mempersiapkan acara untuk menyambut Hari Kemerdekaan RI yang ke 55. Semua guru diwajibkan ikut terlibat, karena memang jumlah guru di sekolah tersebut sedikit. Kegiatan persiapan tersebut cukup membuatku terhanyut dalam suasana sibuk dan tidak terlalu memikirkan romantisme yang dulu kami lakukan hampir setiap hari.

Aku dan Nurhasanah kebetulan sama-sama menangani pentas seni untuk acara perkemahan hari pramuka dan juga acara inti panggung hiburan 17-an.

Kami merencanakan sebuah pertunjukan seni drama dan paduan suara tradisional. Cukup sulit bagi kami untuk memilih siswa-siswa yang akan ikut terlibat di pertunjukan yang ingin kami pentaskan karena jumlah siswa yang sedikit. Tetapi Kepala Sekolah mengingatkan kami bahwa acara pentas seni tersebut sangat penting untuk menarik minat masyarakat sekitar ke sekolah kami yang baru berusia 2 tahun.

Kami menguji satu persatu siswa yang kami punya. Kemampuan vokal dan ekspresi wajah mereka. Dari keseluruhan siswa yang berjumlah 50 orang akhirnya kami mendapatkan 10 orang yang kami nilai cukup bagus untuk mementaskan drama dan paduan suara. Di antara 10 orang yang kami pilih, Ika dan Lina termasuk di dalamnya.

Lina tersenyum penuh kemenangan saat namanya kami panggil untuk ikut serta dalam kelompok seni. Aku akui dia memang berbakat, wajahnya cantik dan bentuk tubuh yang ideal, dan dia pandai berpura-pura. Jika dia berdandan dan kebetulan aku bertemu di jalan, aku pasti tak akan mengira jika dia masih kelas 2 SMP. Ika mempunyai suara yang indah dan aku sempat kaget sewaktu dia berimprovisasi dengan lagu Rayuan Pulau Kelapa. Dia menyanyikan lagu tersebut seperti dia adalah sang ibu pertiwi sendiri. Aku makin penasaran dengannya.

Sebelum pulang sekolah tadi dia sempat menghampiriku dan berkata ,"sebaiknya bapak harus lebih berhati-hati mulai saat ini."

Aku kaget dan hendak bertanya alasan dia mengatakan itu. Tapi dia cuma tersenyum dan menegaskan kembali apa yang baru saja dia ucapkan.

Percuma saja untuk memintanya menjelaskan ucapannya tadi.

Barangkali aku memang harus lebih berhati-hati. Beberapa hari yang lalu aku dan beberapa guru mengajukan somasi, mempertanyakan transparansi pemakaian anggaran sekolah yang sepertinya agak kurang beres.

"Tugas guru itu mengajar. Anggaran sekolah menjadi wewenang yayasan. Dan dari awal guru sudah menyetujui untuk mengajar dengan gaji yang ditawarkan. Perlu bapak dan ibu ketahui, yang menjadi beban yayasan bukan hanya sekolah ini, tapi berbagai macam kegiatan sosial yang menjadi agenda yayasan." Jelas Maysaroh dan dia jelas-jelas memendam kemarahan dalam suaranya. Semua kecuali aku tertunduk. Aku memilih memandang raut mukanya. Berusaha menemukan apa yang sedang ia sembunyikan. Tapi tidak berhasil.

"Kami mengerti hal itu. Kami juga tidak menuntut yang macam-macam. Kami hanya ingin tahu. Dan jika sudah tahu, ya sudah. Ibu tidak perlu semarah itu." Jawabku

"Saya tidak marah. Cuma yang perlu pak Burhan pahami adalah tugas yayasan banyak sekali, selain hanya mengurusi sekolah ini. Apa pak Burhan tahu, kami harus membuat proposal, mengajukan permohonan ke beberapa instansi, melobi beberapa perusahaan. Pak Burhan dan guru-guru yang lain tinggal enaknya saja. Terima gaji tiap bulan, dan mengajar anak-anak."

"Ya kami tahu itu bu. Dan saya cuma minta satu hal lagi, laporan keuangan."

"Ya. Akan segera saya sampaikan ke ketua yayasan." Jawabnya ketus dan tidak bersahabat. Guru yang lain makin dalam tertunduk. Andi, temanku yang duduk di sampingku sampai mencubiti tanganku berkali-kali agar aku berhenti bicara dan berhenti melawan kata-kata kepala sekolah. Aku tidak bergeming dan tetap ngotot menuntut yang kami mau.

Dalam pandangan kepala sekolah, Aku sudah memproklamirkan sebuah pemberontakan.

Tapi aku pikir segawat apakah somasi yang kami ajukan. Masih dalam batas kewajaran sepertinya. Kecuali ada hal aneh bin ajaib yang menyangkut laporan keuangan tersebut. Otakku tergelitik menanggapi berbagai desas-desus bahwa Yayasan Al Makmun mendirikan sekolah ini hanya sebatas pada pencitraan untuk pemenangan wakil rakyat partai tertentu, dan mereka tidak bersungguh-sungguh dalam menyelenggarakan pendidikan. Sekolah hanya dimanfaatkan sebagai kamuflase, kedok terselubung, membangun image palsu hanya untuk kepentingan ambisius seseorang atau kelompok. Dan apa yang kulihat, apa yang kudengar, serta apa yang kurasakan semakin membenarkan desas-desus itu.

Barangkali aku memang harus lebih waspada. Tanpa kusadari kata-kata Ika membuatku merinding.
Chapter 15 : Sengkuni Melenggang ke Medan Laga Chapter 15 : Sengkuni Melenggang ke Medan Laga Reviewed by Ainun Mahya on 4:32 PM Rating: 5

No comments:

Silakan Berkomentar dengan Bijak

Powered by Blogger.