Chapter 17 : Dua Kata Magis

Maysaroh bukan tipe orang yang suka repot-repot kalau hanya untuk menghargai seseorang. Sebagai seorang murobbi dan istri seorang yang terpandang, mungkin telah cukup alasan bagi dia untuk memandangku sebelah mata atau cukup dengan tepian mata. Kalau hanya untuk berbicara dia tidak merasa perlu mengundangku masuk ke ruangannya. Cukup di depan pintu ruangannya dan melambai tangan menyuruhku menghampirinya. Tapi mungkin saja hal itu karena larangan berkhalwat dalam Islam.

Maksudku walaupun beberapa hal telah nampak sifat celanya, tapi secara personal dan hubungan dengan orang lain Maysaroh hanya mengikuti aturan Islam dan sebenarnya secara sosial dia baik.

Bagiku malah sangat kontradiktif kalau begitu.

Ah peduli amat.

Pak Amat aja sekarang lagi senewen karena motor GL Pro tuanya tidak mau hidup dari tadi. Pak Amat, penjaga sekolah merangkap bagian administrasi sekaligus asisten pribadi Maysaroh. Urusannya bukan hanya motokopi surat, beli pulpen, kertas dan ketak-ketik surat, tapi dia sering disuruh belanja kebutuhan rumah tangga Maysaroh di Alfamart langganannya. Sekarang motornya ngadat karena ga punya duit untuk servis.

Ruang kantor Maysaroh kecil, berukuran 2 x 4 meter. Berada tepat di belakang masjid, tadinya ruangan itu dipakai untuk gudang peralatan masjid. Sekarang naik pangkat karena dipakai oleh sang murobbi. Peralatan yanga ada di sana hanya komputer lama dengan printer Canon yang lama juga dan sering ngadat.

Meja Maysaroh tepat di belakang meja komputer yang sering dipakai oleh Pak Amat untuk bekerja. Di depan meja komputer, ada kursi dan meja yang diperuntukkan untuk tamu.

Ketika aku masuk, di kursi tamu itu sudah ada Barnas Somantri, wakil kepala sekolah yang pendiam dan murah senyum. Dia salah satu orang penting dalam Partai Islam yang membawahi yayasan Al Makmun. Kalau tidak salah otakku mengingat, jabatannya adalah sekretaris DPC. Walaupun pendapatannya tak menentu untuk saat ini, dia masih punya harapan yang sangat besar, pemilu depan dia bisa menjadi wakil rakyat. Dan bila sudah jadi wakil rakyat, bukan hanya materi yang akan didapatkannya tapi juga kehormatan, orang lain akan menghargainya, akan mendengarkan kata-katanya.

Ramadhan kemarin, dia berselisih dengan bapak mertuanya hanya karena jumlah rakaat shalat Tarawih yang akan dijalankan di masjid itu. Barnas bersikukuh pada jumlah bilangan 11, sementara bapak mertuanya 21. Masjid itu memang seperti masjid mereka berdua, karena tanah yang ditempati adalah tanah wakah dari kakek istri Barnas. Akhirnya terjadi hal yang lucu, ruang masjid disekat menjadi 2, untuk jamaah yang memilih shalat tarawih 11 dan 21.

Nah, kalau dia nanti menjadi wakil rakyat, semua orang akan mengiyakan kata-katanya, termasuk bapak mertuanya.

Barnas senyum-senyum seperti biasanya ketika aku masuk. Maysaroh tidak ada di ruangannya. Setelah berbasa-basi sebentar aku bertanya tentang Maysaroh. Katanya dia ada di dalam masjid bersama Nurhasanah.

Nahh.

"Kita perlu berbicara serius sekarang, Pak burhan." Katanya dengan nada tegas.

Seketika badanku beringsut, menegakkan sikap duduk dan meluruskan kepala. Pandangan mataku sekarang lebih fokus lagi ke arah Barnas. Setelah semuanya kurasa telah cukup menandai keseriusanku, aku menjawab, "ya pak. Silakan! Saya mendengarkan lebih dulu."

Kulit wajah Barnas memerah. Kulitnya memang putih dan dia cukup tampan. Wajah tampannya sekarang tampak tegang dan sejurus kemudian dia menghela napas.

"Kami merasa terganggu dengan berita affair pak Burhan dengan Bu Nurhasanah. Saya ingin konfirmasi dulu dengan bapak, apakah benar berita itu? dia bertanya seakan-akan setiap kata yang terucap adalah jalan berlendir yang bisa membuatnya terpeleset sewaktu-waktu.

Setelah selesai bertanya, kembali dia mengambil napas dan menahannya beberapa saat sambil menunggu jawabanku. Cuma dua jawaban yang kupunya tentu saja. Dan hanya satu yang benar. Aku berpikir jawaban mana yang akan kupilih. Menjawab benar dan pasti jawaban itu tidak akan membuat Barnas senang, atau menjawab salah dan membuatnya senang tapi tetap bertanya-tanya dalam hati, dari mana asap yang selama ini berhembus berasal. Apakah Nurhasanah juga mendapatkan pertanyaan yang sama. Dan bila aku menjawab ya sementara Nurhasanah menjawab tidak, justru akan membuat masalah semakin runyam. Aku berpikir dan harus memutuskan jawaban dalam waktu 10 tarikan napas Barnas. Oh . Jagad dewa batara tiupkan isyarat agar yang keluar dari mulutku adalah jawaban yang terbaik. Tidak usah benar atau salah. Salah dan benar hanya persepsi.

"Saya hanya berteman baik dengan Nurhasanah. Kami dekat. Lebih dekat dari pada hubungan saya dengan pak Barnas. Dia telah banyak menolong saya, karena itu saya merasa seperti kakak beradik dengannya."

Barnas menghela napas.

Tapi entah apa yang ada dalam otaknya sekarang.

Aku lega.


Maysaroh masuk dan melenggang tanpa sedikitpun melirik ke arahku.
Chapter 17 : Dua Kata Magis Chapter 17 : Dua Kata Magis Reviewed by Ainun Mahya on 7:31 PM Rating: 5

No comments:

Silakan Berkomentar dengan Bijak

Powered by Blogger.