Tunjuk Satu Bintang : Kala Senja

Tunjuk Satu Bintang sebuah karya dari Ainun Mahya yang berisi Psycho-Telling seorang Kakak dengan adiknya. Melalui Tunjuk Satu Bintang, Ainun Mahya bercerita secara singkat dan lugas tentang Biografi-biografi tokoh terkenal sebagai bahan motivasi untuk adik yang dicintainya. Buku "Tunjuk Satu Bintang" terdiri dari 24 Bab. Setiap babnya diberi judul menurut waktu dari pagi hingga malam hari.

Momen 1 : Kala Senja


Adikku, aku adalah kakakmu.
Kakak lahir lebih dulu. Kakak ikut menyaksikan kamu lahir, belajar merangkak dan memanggil. Tangan mungilmu  mulai menggapai-gapai segala sesuatu di sekitarmu. Kamu menangis dan ber-nananana.

Kita berbicara lewat sentuhan.
Dan itulah satu-satunya cara kita berkomunikasi, karena walau bagaimanapun Kakak tak bisa mengerti bahasa nanana-mu. Kakak cuma mengerti saat kamu bahagia dengan senandung nanana-mu yang enak didengar, dan saat kamu kesal, sedih atau marah saat tangismu memecahkan alam sunyi desa kita.
Kakak kasihan jika sudah begitu, namun aku yakin semua orang yang melihatmu juga akan merasakan hal yang sama.
Menyayangi dan mencintaimu. Kamu adalah sosok mungil yang sangat layak dicintai.
Apalagi ibu kita.
Khusus untuk wanita yang satu ini Kakak ingin bersumpah!

Apapun yang terjadi. Seandainya ibu kita tidak cantik lagi nantinya, kulit mulai keriput, jalan mulai sempoyongan, semua inderanya mulai tidak normal, mulai sakit-sakitan dan merepotkan kita, selalu sematkan rasa hormat di hatimu untuknya. Karena Kakak tahu, lewat tangannya, Tuhan telah memberikan kehidupan kepadamu.
Dia mulia.

Ibu kita itu wanita yang mulia.

Tak satupun yang bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan kemuliaanya.




Walaupun seandainya semua manusia dari ujung barat hingga ujung timur, dari pesisir pantai hingga puncak gunung, dari India hingga Pantai Gading mengatakan hal-hal yang jelek tentang ibu kita, Aku, Kakakmu adalah orang pertama yang akan membelanya. Mengembalikan semua kemuliaan yang coba direnggut oleh orang lain.

Tahukah Engkau Adikku?


Walaupun Kakak belum pernah bertanya tentang hal ini kepada ibu, tapi aku yakin bahwa Ibu akan dengan sukarela menukar nyawanya dengan nyawamu bila suatu hari nanti Ia terpaksa harus melakukannya.

Menit demi menit berlalu, jam demi jam berganti seperti daun-daun yang menguning, gugur dan tumbuh daun baru, hari-hari berlalu tanpa sedikitpun melunturkan rasa sayang Ibu padamu, pada kita. Setiap saat, Ia melindungimu, merengkuhmu dalam dekapannya yang nyaman, menjagamu dari gigitan nyamuk di malam-malam yang sepi, melindungimu dari sengatan matahari dengan kainnya yang kumal, merelakan sebagian gizi dari tubuhnya untuk engkau hisap, menyisakan jam tidurnya demi menyaksikan seulas senyumu menyungging di ujur bibir dan ber-nananana.

Hal itu semakin berarti jika kita mengingat bahwa Ibu dan Ayah kita bukan orang kaya. Tidak ada mesin cuci, kompor gas apalagi pembantu dan baby sitter. Kakak ingat, sepuluh daster telah Ia relakan untuk dibuat baju bayi agar engkau tetap hangat.

Lihatlah!

Betapa repotnya Ia….

Dan semua itu belum pernah ia ceritakan padamu. Aku yakin, baru kali ini engkau mengetahuinya. Karena baginya, semua yang ia lakukan bukan apa-apa. Hal yang tak perlu engkau kenang, Engkau ingat-ingat.
Namun bagiku, itu adalah pekerjaan yang sebanding dengan Napoleon Bonaparte ketika memimpin pasukannya memenangi seluruh pertarungan di Eropa. Seumpama Muhammad, Sang Rasul yang bersusah payah meyakinkan orang-orang kafir akan keilahian Tuhan, serupa dengan Yesus saat menyampaikanm kasih Tuhan kepada gembala-gembala yang tersesat.

Sekarang, engkau telah mengerti, kenapa harus menghormatinya.
Tak perlu engkau menghadiahinya dengan uang, emas, atau untaian berlian. Cukup tunjukkan bahwa Ia adalah ibumu dan engkau anaknya. Tak perlu Engkau cuci kakinya, cukuplah dengan selalu tersenyum padanya dan jawablah dengan lemah lembut saat Ia bertanya.

Tunjuk Satu Bintang : Kala Senja Tunjuk Satu Bintang : Kala Senja Reviewed by Ainun Mahya on 11:30 PM Rating: 5

No comments:

Silakan Berkomentar dengan Bijak

Powered by Blogger.